Selasa, 08 April 2014 - 13:31:22 WIB
Pesan-pesan untuk Muballig dan Muballigah
Diposting oleh : syarif
Kategori: Artikel Islam - Dibaca: 53764 kali

Sukses tidaknya pencapaian sasaran dakwah banyak bergantung pada para mubalig atau pengemban dakwah. Tak ada jaminan keberhasilan dakwah dengan lawakan lucu yang menimbulkan gelak tawa atau dakwah yang mengalirkan  cucuran air mata atau dengan applause dari objek dakwah, melainkan diukur antara lain pada bekas dan kesan yang ditinggalkan dalam hati pendengarnya, menggugah jiwa kemudian tercermin dalam pola dan tingkah laku mereka. Dari berbagai segi,  beberapa persiapan dapat dikemukakan sebagai berikut.

a.      Penuh Vitalitas

Mubalig harus memiliki semangat penuh vitalitas, tahan banting, karena dalam dakwah niscaya akan menghadapi cemohan, nista dan caci. Jangan mempertontonkan diri dalam keadaan loyo, kehilangan spirit dan dinamika. Di sini mubalig wajib yakin bahwa Allahlah yang menjadi tumpuan harapannya,  Allahu Akbar- “dan agungkanlah Tuhanmu” (Al Muddatsir ayat 3). Tugas mubalig sebatas memberi berita gembira dan peringatan – sedang mad’u memperoleh hidayah - itu otoritas Allah semata. Keyakinan ini akan memperkuat vitalitas mubalig IMMIM menghadapi tantangan sekalipun membentang rintangan  kekuasaan sebesar gajah atau segompok gunung.

b.      Performa  Menarik

Mubalig akan berhadapan dengan orang banyak, para tokoh, sesepuh yang berpengaruh atau dengan siapa saja. Justru itu mubalig harus tampil elegan dengan pakaian yang bersih (Al-Muddatsir ayat 4). Kebersihan, kerapian adalah pokok yang penting untuk menarik perhatian orang. Kebersihan dan performa menarik akan menimbulkan harga diri  sehingga menjadi satu point menentukan bagi mubalig IMMIM menyampaikan dakwah ke tengah-tengah masyarakat.

c.       Keikhlasan Prima

Kesiapan mental penuh ikhlas harus tertanam dalam hati mubalig IMMIM. “Dan mereka tidak diperintahkan melainkan menyembah Allah dengan hati jernih (ikhlas) beragama karena untuk-Nya semata, dengan menjauhi kesesatan” (Al Bayinah ayat 5). Ia harus memiliki jiwa merdeka,  menjauhi sifat ananiyah yang mengganggu tugasnya, seperti frustrasi, ingin kaya, ingin kedudukan dan pangkat,  popularitas, ingin dipuja dan dikultuskan.  “Aku tidak meminta dari kamu suatu balasan  apa pun atas (menyampaikan Quran), kecuali siapa yang mengambil jalan kepada Tuhannya “(Al-Furqan ayat 57). Kalau ada yang diberikan kepada mubalig, itu bukanlah upah, bukan balas jasa, bukan gaji, melainkan yang diharapkan adalah al-mawaddah fil qurba, “hubungan yang mesra antara mubalig dengan yang menerima dakwahnya” (Assyura ayat 23). Ikhlas dalam arti demikian mubalig akan bebas dari segala bentuk ananiyah yang negatif, membawanya pada maqam jiwa merdeka dalam arti kata sesungguhnya. Jiwa ikhlas dan merdeka mengandung kenangan dan keseimbangan serta sebagai tempat bersemainya akhlak yang jernih dan sifat-sifat positif, yang tidak boleh tidak menjadi bekal seorang mubalig IMMIM dalam melakukan tugasnya.

d.      Penguasaan Materi

Mubalig harus memiliki wawasan luas dan paham benar-benar Risalah yang hendak disampaikan, mengetahui materi dan bidangnya, menyelami saripati dan jiwanya. Bagaimana dakwah akan berhasil kalau ia sendiri tidak menguasai bidang yang disampaikannya. Sebab itu, mubalig IMMIM  perlu menguasai bahasa Al-Quran minimal secara pasif supaya dapat menggali isi dan menangkap jiwa risalah itu secara utuh.

e.       Paham Berbagai Ilmu

Karena yang dihadapi mubalig adalah manusia sebagai makhluk sosial, maka ia perlu memahami unsur fitrah manusia, tingkah laku, alam fikiran dan perasaan, kultur serta budaya mereka. Dengan demikian mubalig IMMIM membutuhkan pengetahun luar selain agama an sich. Ia perlu tahu berbagai cultural universal 2) agar memiliki wawasan luas. Maka perlu bekal penguasaan llmu jiwa (psikologi), Ilmu Sejarah, Ilmu Bumi, Sosiologi, Ilmu Politik, dsb.

f.        Menggunakan Bahasa Populer

Selayaknya mubalig IMMIM menggunakan bahasa populer dipahami  oleh objek dakwah. Bahasa pengantar yang tersusun rapi akan menjadi jembatan dan pembuka hati serta penggerak rasa bagi penerima panggilan. Al-Quran menggunakan kata-kata yang menarik seperti ”qaulan layyina” ( Thaha ayat 44), yaitu berkomunikasi dengan mad’u secara lembut, tanpa emosi, atau dengan nista atau memberi cap keras kepala. Ada juga qaulan karima ( Bani Israel ayat 23), yaitu kalimat-kalimat yang memuliakan mereka serta dirasakan apa yang disampaikan mubalig menjadikan diri mereka merasa terhormat.  Qaulan baligha (An-Nisa ayat 63) yaitu kata-kata yang memberi kesan dalam  hati.  Qaulan marufa (Al-Baqarah 235) yakni ungkapan-ungkapan yang memberi pencerahan, mampu dijadikan solusi dalam mengatasi masalah. Banyak lagi teknik berkomunikasi yang dilukiskan Al-Quran. Bila semua itu disimak, mubalig akan memperoleh simpulan,............   nasihatilah mereka serta katakanlah kepada mereka kata-kata yang memberi bekas pada apa-apa yang ada di hati mereka” (An-Nisa ayat 63).

g.      Ilmu Akhlak

Ilmu ini membahas perbedaan yang baik dan buruk yang terpuji dan tercela. Sebab itu, kita  tidak perlu terlalu mengidolakan ilmu akhlak filsafat Aristoteles, sebab akhlak bukan konsep teoritis, melainkan harus diamalkan dengan keteladanan. Seorang mubalig IMMIM akan lebih berwibawa  jika mampu mencontoh kehidupan sehari-hari Rasulullah S.a.w. atau sahabat-sahabat beliau atau orang-orang yang saleh. Tuntunan Tuhan dalam Al-Quran serta anjuran Rasulullah dalam amar maruf nahyi mungkar, bukan semata-mata tulisan tetapi telah dijalankan dalam praktek. Bagian ilmu akhlak ini adalah garam dari segala syarat yang diperlukan. Keteladanan baik yang ditunjukkan seorang mubalig dalam laku dan perangainya, itulah yang akan lebih membantunya dalam mencapai apa yang ia dakwahkan.



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)